Sabtu, 19 November 2011


ASEAN Summit and Related Summits has just ended. The President of the Republic of Indonesia as ASEAN Chairman 2011: Honorable Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) addressed a press conference from 6 to 7pm at Nusa Dua 5 Room, BNDCC, Bali.
President SBY deliberated the nine main achievements came out from this prestigeous ASEAN, ASEAN+, ASEAN-East Asia and ASEAN United Nations Summits (ASEAN Summit and Related Summits), that have been discussed and decided by Leaders who represented the 18 countries of ASEAN, and ASEAN dialogue partners in Bali.
Those nine main achievements are the following:
  1. Concrete measures to strengthen the three pillars of ASEAN community;
  2. Strengthening the regional economic growth;
  3. To assume a pivotal role in building a more efficient and effective architecture for regional cooperation;
  4. To maintain south east asia regional stability and security;
  5. Strengthening the role of ASEAN globally;
  6. Joint efforts to strengthen the economy of East Asia (East region);
  7. Joint efforts to develop platform and real action to address food, water, and energy security as well as climate change;
  8. Joint efforts to address non-traditional security challenges: natural disasters, terrorism, transnational crimes;
  9. Joint efforts to maintain peace, security and stability and order of east asian region.
Sumber: ASEAN Summit

The President of Indonesia Chairs the East Asia Summit

Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono,accompanied by Foreign Minister Marty Natalegawa, chaired the 6th EastAsia Summit to discuss four major issue in Nusantara 1-2 of BaliInternational Convention Centre (BICC) in Nusa Dua, Bali, Saturday(19/11).

In his opening speech, the president said that one of the four majorissues was about a joint effort to strengtheni the East Asia regionaleconomy. The main issue has to do with efforts designed to build afoundation and real-action in improving the security of food, energy, andwater as well as climate change.
Besides, other issues of non-traditional threats are also discussed suchas natural disasters, terrorism, and transnational crime as well asmaintaining peace and stability in the region which will serve asprerequisites for the progress of the nations in the East Asian Region.

Potentials and opportunities of an open economy cooperation with countrieslike PRC, Japan, and India were also discussed. “It is expected themeeting will open an economy opportunity in East Asia which continues togrow just like that in Russia and New Zealand, so that it can be a part ofbetter global economic and non economic growth,” he stated.

Yudhoyono further stressed that ASEAN states were facing challenges as animpact of crisis in the Euro Zone allegedly perceived to have createddifficulties and uncertainties for the world economy. While the crisis isstill underway, other non-economy but actual issues concerning food,water and energy security, climate change, political and social impacts ofrevolution in the information technology also came up to surface.

“Geopolitical development relating to geo-economy often creates tension inmany regions of the world. At the same time, we also face domestic issuesin our own country,” he elaborated.
Therefore, the short-term and mid-term objectives of the East Asian Summitare to make a contribution to the world’s economic recovery as well as toencourage economic growth in the region.

According to him, mid-term and long-term of East Asia has the task toimprove global economy as a whole. The G-20 framework can be used as aplatform, so that there will be a cooperation framework in the future bytaking real steps to address various fundamental issues such as food andwater availability and energy security.

If cooperation is only based on the interest of each country, all thesefundamental issues cannot be addressed. It can even create tensions whichwill not be in favor of the world.
“Future cooperation has to be holistic, not partial, and sincere at theworld and regional levels and it has to cover cooperation in economy,politics, technology, security and humanitarian through real actions,” hefurther stated. (MC ASEAN/juliyah/dry)

Sumber: ASEAN Summit

ASEAN-UN Create Future of the People

The ASEAN and the United Nations have been committed to creating better future of the people in the world with a focus on women and children, UN Secretary General Ban Ki-moon said in a press conference at the Media Center of Bali Nusa Dua Convention Center here on Saturday.

"By working together, ASEAN and UN can build the future based on the way we want it to be. We can create a future that our people and the people in all over the world deserved to have,” he said.

He admitted that he always observed progress in Asia. Take for example Bangladesh, in which public health centers in villages had saved a lot of lives, and the rate of maternal mortality had decreased in addition toreducing the mortality of babies.

Then, he continued, he also had visited health centers in Central Kalimantan, Indonesia. It has the same condition like that in Thailand, inwhich Moon saw that there was the need for medical care for women and children. "And what impresses me is that how Thailand started a universal health care program. They started with it when the income of the country was much lower than it is today," he said.

Furthermore, Moon said that there are two lessons that can be learned here. Firstly is how to solve simple issues that can save the lives such as by providing trainings for midwife in villages, and clean water and vaccination, which were not too costly.

Secondly, a country does not have to wait until it really becomes a rich country in a bid to provide benefits for its people. “The world is a better place through a program like the ones in Bangladesh, Thailand and Indonesia,” he emphasized.

Moon also hoped that there were more donations triggered by other examples and UN could be a good partner for ASEAN in this case. Development had to be based on the current reality, the world had changed since Asia started to improve through its growing needs, but the deterioration of the environment had not taken place anymore. “We have to be strict and takefuture-oriented actions,” Moon said, (MC ASEAN/astra/dry)

Sumber: ASEAN Summit

Proyek Konektivitas Dibangun dari Davao hingga Bitung

Proyek konektivitas ASEAN yang menghubungkan jalur maritim di antara negara-negara anggota ASEAN akan dibangun dalam bentuk pelabuhan internasional ("hub") di Davao (Filipina) hingga Bitung (Sulawesi Utara, Indonesia).
"Kami telah melakukan kajian dalam membangun konektivitas ASEAN dari Davao ke Bitung," kata Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Djauhari Oratmangun, setelah acara ASEAN Senior Official`s Preparatory Meeting dalam kerangka KTT ASEAN di Nusa Dua, Senin (14/11).
Djauhari memaparkan, kajian tersebut merupakan bentuk dari konektivitas jalur maritim yang akan memperkuat konektivitas ASEAN yang merupakan bagian dari upaya mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015.
Pelabuhan internasional di Davao dan Bitung tersebut akan menjadi penghubung bagi berbagai pelabuhan utama di 11 negara anggota ASEAN yang diperkirakan juga akan meningkatkan kerja sama dan pertumbuhan ASEAN.
Sedangkan sumber dana untuk membangun konektivitas ASEAN beserta beragam infrastruktur yang akan menghubungkan kawasan Asia Tenggara itu antara lain berasal dari lembaga pendanaan bersama atau ASEAN Infrastructure Fund (AIF).
Sebagaimana diberitakan, pembentukan AIF merupakan inisiatif kerja sama negara-negara ASEAN bersama Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk mendirikan sebuah lembaga pendanaan bersama dalam rangka pembangunan infrastruktur di kawasan ASEAN.
AIF didirikan dengan modal awal sebesar 485,2 juta dolar AS, yang terdiri atas penyertaan modal dari negara anggota ASEAN sebesar 335,2 juta dolar AS dan penyertaan modal ADB sebesar 150 juta dolar AS.
Dari sisi negara anggota, Malaysia, sebagai Ketua Kelompok Kerja (High Level Task Force/HLTF) pendirian AIF, menanamkan modal sebesar 150 juta dolar AS, yang merupakan shareholder terbesar, diikuti Indonesia sebesar 120 juta dolar AS.
ASEAN sendiri diperkirakan membutuhkan dana hingga sekitar 60 miliar dolar AS per tahun untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur.
Menurut rencana, AIF akan membantu pendanaan sekitar enam proyek infrastruktur setiap tahun, yang diseleksi berdasarkan rate of return yang kuat, baik secara ekonomi maupun keuangan, dan memiliki dampak potensial dalam mengurangi kemiskinan.
Pembentukan AIF ini merupakan wujud konkrit dari hasil kerjasama keuangan negara-negara ASEAN dan merupakan salah satu keberhasilan diplomasi keuangan Indonesia, karena AIF terbentuk dalam periode kepemimpinan Indonesia di ASEAN.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk ASEAN Gede Ngurah Swajaya yang juga merupakan Perwakilan Tetap Indonesia untuk ASEAN menyebutkan bahwa terdapat 15 megaproyek dalam rangka konektivitas ASEAN dengan total nilai 60 miliar dolar AS.(MC ASEAN/dry)

ASEAN Sepakat Matangkan Rencana Visa Bersama

Negara-negara ASEAN sepakat untuk mematangkan rencana penerapan ASEAN Common Visa (Visa Bersama) yang diharapkan pada tahun 2012 memasuki tahap rekomendasi.
"Wacana Visa Bersama ASEAN menjadi salah satu pembahasan utama dalam ASEAN Senior Offial Preparatory Meeting (ASEAN SOM) untuk selanjutnya dibahas di tingkat menteri ASEAN," kata Dubes RI untuk ASEAN I Gede Ngurah Swajaya usai mengikuti ASEAN SOM dalam kerangka KTT ke-19 ASEAN di Bali Nusa Dua Convention Center, Senin (14/11).
Menurut Ngurah rekomendasi penerapan Visa Besama ASEAN dilakukan melalui kajian resmi secara mendalam mengenai berbagai hal seperti sistem on-line visa, koordinasi penerapan antar negara ASEAN, dan termasuk mengantisipasi kendala penerapannya, serta dampak negatif yang ditimbulkannya.
Ia menjelaskan sesungguhnya semua negara setuju bahwa penerapan Visa Bersama ini akan menguntungkan karena dapat meningkatkan jumlah pariwisata ke masing-masing negara ASEAN. "Visa Bersama mendorong tumbuhnya jumlah pelancong di kawasan ini, namun bagaimana meminimalisir dampak negatifnya... itu yang harus diselesaikan," ujarnya.
Wacana Visa Bersama ASEAN muncul sejak tahun 2009 pada pertemuan para Dirjen Imigrasi dan Konsuler se-Asia Tenggara, namun saat itu konsep tersebut belum dianggap mendesak karena masih banyak kendala menyangkut penerapan di masing-masing negara seperti keimigrasian, aspek keamanan, pengelolaan perbatasan, maupun aspek finansial.
Sesungguhnya diutarakan Ngurah, penerapan Visa Bersama sudah mendapat disepakati pada tingkat Senior Official Meeting (SOM) ASEAN tinggal menunggu hasil rekomendasi yang kemudian disampaikan ke tingkat pemimpin ASEAN untuk mendapat persetujuan. "Secara prinsip Visa Bersama sudah mendapat persetujuan namun diperlukan waktu untuk mengelaborasi lebih lanjut bagaimana agar dalam penerapannya jangan sampai melanggar ketentuan yang ada di masing-masing negara," ujarnya.
Meski demikian Ngurah belum bisa memastikan waktu tahun penerapan Visa Bersama, karena harus melalui berbagai tahapan pembahasan yang lebih lanjut.
Ia hanya menjelaskan bahwa Visa Bersama merupakan bagian "ASEAN Connectivity" yang dapat menginterkoneksi negara-negara ASEAN baik dari sisi infrastruktur dasar terkait perhubungan darat, laut dan udara sehingga mendorong interaksi antar penduduk, pariwisata, investasi dan pedagangan.
Terkait kemungkinan dampak negatif dari penerapan Visa Bersama tersebut berupa peningkatan kejahatan lintas negara (transnational crime), Ngurah mengatakan semua kebijakan memiliki efek. Namun bagaimana dampak negatif tersebut dampak diperkecil sehingga lebih menguntungkan semua pihak.(MC ASEAN/dry)

Pejabat Senior Sepakati Materi KTT Ke-19 ASEAN

 Substansi prioritas yang akan dibahas dalam rangkaian persidangan KTT Ke-19 ASEAN disepakati para pemimpin delegasi pertemuan pejabat senior. Hal ini memegang peran penting dalam langkah lanjut demi kesuksesan penyelenggaraan pertemuan puncak pemimpin negara-negara ASEAN itu.
"Pada prinsipnya sudah dihasilkan kesepakatan-kesepakatan bersama pada banyak isu yang terkait persiapan KTT," kata Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri Djauhari Oratmangun, yang memimpin pertemuan pejabat senior pada seri pendahuluan persidangan menjelang KTT Ke-19 ASEAN, di Nusa Dua, Bali, Senin (14/11).
Oratmangun menjelaskan kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan selama dua hari, sejak Minggu (13/11) dan untuk selanjutnya akan dibawa dalam persidangan para menteri luar negeri negara-negara anggota ASEAN, yang dimulai pada Selasa (15/11).
Hasil kesepakatan para pejabat senior negara ASEAN itu juga menjadi dasar Pertemuan Keenam Dewan Masyarakat Politik Keamanan ASEAN yang akan berlangsung pada 16 November 2011. Setelah kedua pertemuan di tingkat menteri itu dilaksanakan, maka tiba waktunya menggelar pertemuan puncak di tingkat kepala negara dan kepala pemerintahan pada 17-19 November 2011.
Ada beberapa capaian puncak yang diagendakan dalam KTT Ke-19 ASEAN kali ini, yang dokumennya disiapkan para pejabat senior itu. Selain untuk kepentingan internal ASEAN, dokumen-dokumen itu juga diperlukan untuk KTT Terkait, KTT ASEAN Plus (termasuk KTT ASEAN-China, KTT Ke-14 ASEAN-Jepang, KTT Ke-14 ASEAN-Korea Selatan, KTT Keempat ASEAN-PBB, KTT Kesembilan ASEAN-India, KTT Ketiga ASEAN-Amerika Serikat, KTT Keenam Asia Timur, KTT Mekong-Jepang dan KTT Ke-14 ASEAN Plus Tiga.
Keempat dokumen itu adalah adalah Deklarasi Bali mengenai Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa-Bangsa, Deklarasi KTT Asia Timur mengenai Prinsip-Prinsip Hubungan yang Saling Menguntungkan, Deklarasi KTT Asia Timur mengenai Konektivitas ASEAN, serta yang terakhir adalah Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Komprehensif antara ASEAN dan PBB.
Di luar dokumen deklarasi itu, juga dibahas pembentukan Institut Perdamaian dan Rekonsiliasi (ASEAN Institute for Peace and Reconciliation) dan implementasi Deklarasi Tata Perilaku Pihak-Pihak dalam Laut China Selatan (Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea), Visa Bersama ASEAN (ASEAN Common Visa), serta Target Tahunan Pengembangan Komunitas ASEAN. (MC ASEAN/dry)

Media Center Ready to Operate

The media center for the 19th ASEAN Summit and Related Summits at the Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, will fully operate as of Tuesday, November 15, 2011.
All the facilities in the media center are expected to make journalists easier to cover all the agendas of the summit till Saturday, November 19, 2011. Director General for Information and Public Communications of the Ministry of Communications and Information Freddy Tulung said the media center has actually been ready since Monday, November 14, 2011. “The media center is already prepared since November 14, 2011 when Vice President Boediono was scheduled to closely observe the readiness of the media center,” Freddy said.
Freddy confirmed that the media center has functioned well especially in the upcoming visit of President Susilo Bambang Yudhoyono on Wednesday, November 16, 2011. The media center is expected to run well till the end of the Summit on Saturday 19, 2011.  
The government has allocated Rp18 billion of fund for setting up the media center and all necessary facilities during the 19th ASEAN  Summit, the ASEAN Summit+3, and the 6th East Asia Summit in Nusa Dua, Bali. The
fund was allocated to provide facilities including computers,  internet network and press conference room. Part of the money was also allocated to rent the building for the media center in Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) and a room from which participants and journalists to the summit can take ID cards at Melia Hotel.
The media center at the Singaraja Hall on the first floor of BNDCC is equipped with 300 computers linked to the internet network to make journalists easier cover the summit. Journalists who bring laptops are provided with special lines and wireless network. In addition, the media center also has 30 printers, photocopy machines and stationeries.
The media center also has a number of mini studios to disseminate photos, audio, and video products for about 1,500 journalists coming from 130 countries.
On the readiness of the media center for the 19th ASEAN Summit and the East Asia Summit at BNDCC, Bureau Chief of Japan’s news agency Kyodo in Jakarta Shin Fuchino expressed satisfaction. “The media center is adequate. The speed of the internet  is also good. Hopefully, this condition continues till the end of the Summit,” he said.

Sumber: ASEAN Summit

Simulasi Kedatangan Kepala Negara Jelang Pembukaan KTT ASEAN

Personel pengaman gabungan dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Kepolisian Negara RI (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) melakukan simulasi kedatangan kepala negara atau kepala pemerintahan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) di Nusa Dua, Senin (14/11).
Simulasi dilakukan terutama di luar gedung BNDCC lengkap dengan korps musik dari Paspamres yang melakukan penyambutan setibanya mobil yang membawa kepala negara atau kepala pemerintahan tiba di gedung BNDCC.
Saat dilaksanakan simulasi semua kendaraan menuju BNDCC dilarang memasuki gerbang dan mereka disuruh untuk parkir di luar halaman gedung BNDCC. Seorang petugas pengamanan mengatakan bahwa semua kendaraan dilarang masuk, karena masih melakukan simulasi dan penumpangnya disuruh jalan kaki menuju gedung BNDCC.
15.000 prajurit 
Untuk mengamankan pelaksanaan KTT ASEAN 2011 yang akan dihadiri 16 pimpinan negara ASEAN dan negara-negara mitra wicaranya, pemerintah mengerahkan sekitar 15 ribu prajurit TNI dan Polri dari berbagai satuan.
Dari 15 ribu personel yang dikerahkan itu, 7.562 orang berasal dari Komando Operasional Pengamanan TNI, 750 orang dari Satgas Pengamanan VVIP dan 2.563 orang dari Satgas Pengamanan Wilayah.
Selain itu, terdapat pula Satgas Pengamanan Laut sekitar 600 personel, Satgas Pengamanan Udara 300 personel, satuan intelijen sekitar 200 personel dan aparat Polri sekitar 1.799 personel.
Sementara sejumlah alat utama sistem senjata disiagakan, seperti 16 unit panser ANOA, enam unit helikopter yang terdiri atas Mi-17, Mi-35, Bell-412, dan Puma.
Disiagakan pula satu "flight" pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, tiga kapal perang, tiga unit "sea rider" dan satu baterai rudal Batalyon Arhanud sembilan pucuk.
Sejumlah alat utama sistem senjata itu tergelar di area Nusa Dua dan sekitarnya. Namun, beberapa lainnya disiagakan di sejumlah lokasi lainnya.(MC ASEAN/dry)

Indonesia-Australia Ajukan Manajemen Penanganan Bencana

Indonesia bersama dengan Australia akan mengajukan gagasan mengenai post disaster management untuk mengkoordinasikan bantuan untuk negara yang terkena bencana alam. Proposal akan diajukan di tingkat Senior Officials Meeting (SOM) dan tingkat pemimpin (leaders) jika sudah difinalisasi. Hal ini diungkapkan oleh Djauhari Oratmangun, Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN di sela-sela pertemuan bilateral membahas persiapan KTT ASEAN ke-19 dan pertemuan terkait lainnya bulan November nanti.

Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN, Djauhari Oratmangun mengatakan, “Proposal akan diajukan di tingkat Senior Officials Meeting (SOM) dan tingkat pemimpin (leaders) jika sudah difinalisasi. Pagi ini kita bertemu dengan pejabat senior dari Australia, Amerika dan White House membahas persiapan KTT ASEAN November yang akan dihadiri kepala negara mereka nanti dapat memberikan kontribusi positif”.
Ketika ditanya mengenai isu khusus lainnya yang dibahas, Djauhari mengatakan tidak ada isu spesifik yang diangkat. Selain dengan Australia, Indonesia juga menghimbau agar Amerika dan Australi memberikan kontribusi dokumen untuk pemimpin dalam KTT ASEAN mendatang dan mendukung penuh Keketuaan Indonesia di ASEAN. “Kami juga menginformasikan ke mereka mengenai East Asia Joint Statement on Connectivity yang secara langsung meminta agar East Asia mendukung pelaksanaan Masterplan ASEAN Connectivity,” ujar Djauhari.
Sejak pembentukan ASEAN dan terbitnya Piagam ASEAN 15 Desember 2008 lalu ASEAN telah berkembang positif dibawah terutama tahun ini pada Keketuaan Indonesia pada ASEAN. Ada tiga ketetapan Presiden RI mengenai Keketuaan Indonesia pada ASEAN tahun ini yaitu: kemajuan signifikan dalam membangun komunitas ASEAN, membangun kawasan arsitektur regional yang aman dan maju sehingga pertumbuhan bergeser ke kawasan ASEAN, dan ASEAN Community in a Global Community of Nations. Poin-poin strategis ini diharapkan menjadi kontribusi ASEAN dalam menjaga stabilitas kemanan di tataran global sehingga negara-negara ASEAN dapat maju bersama-sama.
Dikatakan Djauhari, “Minat negara yang menguasai pertumbuhan ekonomi dunia bergeser ke ASEAN. Ketika yang lain dilanda krisis kawasan ini tetap menikmati pertumbuhan positif. ASEAN dianggap sebagai prime mover untuk memajukan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.”
Perkembangan pesat yang dicapai ASEAN selama 44 tahun inilah yang membuat negara yang menguasai ekonomi dunia seperti Amerika dan Rusia ingin berpartisipasi dalam East Asia Summit pertama kalinya.

AS dan PBB Jadwalkan Konferensi Pers di Media Center

Delegasi Amerika Serikat dan PBB pada KTT ASEAN dan KTT Terkait di Nusa Dua, Bali, mendaftarkan diri kepada panitia pelaksana untuk memberi keterangan pers. Pertemuan puncak kali ini akan diikuti petinggi utama kedua pihak itu.
Menyampaikan maksud dan opini untuk kepentingan mereka dipandang sangat penting pada KTT kali ini.  "Beberapa negara, bahkan PBB dan Amerika Serikat, telah mendaftarkan diri untuk memberikan konferensi pers," kata Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Kemkominfo Freddy H Tulung, Minggu (13/11).
Freddy langsung mengawasi perkembangan operasionalisasi Media Center KTT di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali.
Selain PBB dan AS, dia menyebut delegasi Thailand dan Malaysia juga telah mendaftar untuk menyampaikan pernyataan. "Masih ada beberapa negara lain, tapi saya tidak ingat satu per satu," katanya. Gelaran internasional ini semakin dipandang penting dan strategis tidak saja bagi negara anggota ASEAN dan mitra, namun juga bangsa-bangsa lain.
Agar bisa menjamin kelancaran operasionalisasi Media Center itu, pemerintah melalui Panitia Pelaksana mengucurkan dana sampai Rp18 miliar. Mulai dari tata letak, pembangunan dan operasionalisasi jaringan internet dan data elektronika, pengadaan komputer dan perangkat pendukung lain, hingga mesin fotokopi.
KTT ASEAN kali ini memang agak lebih ketimbang KTT yang sudah-sudah. Sekali KTT internal bagi pemimpin puncak 10 negara anggotanya, ada lagi KTT ASEAN+3 dan KTT Asia Timur, yang juga  dihadiri Amerika Serikat, Rusia, India, Selandia Baru, dan Australia.
Arena kegiatan juga bukan cuma satu, melainkan juga di Bali International Convention Center (BICC), yang juga berada di kompleks Nusa Dua. Masih ada lagi aktivitas luar ruang yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, seperti Hello ASEAN.(MC ASEAN/dry)


Kementerian Luar Negeri menegaskan Indonesia dan ASEAN akan terus mendorong lima negara pemilik senjata nuklir utama dunia (P5) menghormati dan mendukung proses aksesi Protokol Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ).
"Indonesia ingin menjaga momentum yang ada tahun ini," kata Direktur Politik dan Keamanan ASEAN Kemenlu RI Ade Padmo Sarwono kepada wartawan saat menjelaskan perkembangan hasil pertemuan hari pertama pejabat tinggi (SOM) dan agenda lanjutan SOM KTT ke-19 ASEAN di Nusa Dua, Bali, Minggu (13/11).
Ia mengatakan, momentum baik tersebut adalah adanya komitmen P5 untuk terlibat dalam pembicaraan dengan negara-negara yang memiliki traktat SEANWFZ dan pembahasan soal Protokol SEANWFZ dalam Sidang Umum PBB ke-66 tahun ini.
"Momentum tersebut harus mampu dijaga ASEAN, termasuk pertemuan Komite Eksekutif Komisi SEANWFZ dengan P5, Senin (14/11) yang menjadi rangkaian kegiatan KTT ke-19 ASEAN dan KTT ke-enam Asia Timur," katanya.
Laporan Dirjen Kerja Sama ASEAN Kemenlu RI menyebutkan, pertemuan menteri ASEAN di Bali Juli lalu juga memfokuskan perkembangan proses aksesi Protokol SEANWFZ itu oleh negara-negara pemilik senjata nuklir.
Pertemuan Komite Eksekutif Komisi SEANWFZ dengan P5 (Amerika Serikat, China, Rusia, Inggris, dan Prancis) dijadwalkan berlangsung esok sore (24/11) di Kintamani 6, Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Pertemuan tersebut merupakan rangkaian kegiatan KTT ke-19 ASEAN dan KTT ke-enam Asia Timur yang berlangsung sejak Minggu (13/14) hingga 19 November.(MC ASEAN/dry)

Bali Concord III menjadi wahana bagi kancah ASEAN pada tataran global

Sebagai dokumen tunggal yang ditandatangani oleh para Leaders pada KTT ke-19 ASEAN, Bali Declaration on ASEAN Community in a Global Community of Nations diharapkan akan menjadi wahana bagi ASEAN untuk mengembangkan peranan pada tataran global.
Deklarasi yang juga dikenal sebagai Bali Concord III itu selain mengangkat peran dan kontribusi ASEAN ke tingkat global, khususnya bagi Indonesia, juga berarti peningkatan kapasitas dalam menghadapi berbagai tantangan global saat ini yang membutuhkan upaya bersama untuk menyelesaikannya. Beberapa tantangan tersebut, antara lain, mencakup terorisme, korupsi, kejahatan lintas batas, krisis keuangan, perubahan iklim, food and energy crisis, kemiskinan, migrant workers, dan lainnya.
Common platform yang tertuang di dalam Bali Concord III bersifat non-exhaustive dalam arti kerja sama di bidang lainnya yang tidak tercantum di dalam deklarasi masih dapat dijadikan sebagai common platform ASEAN di masa mendatang sesuai dengan perkembangan zaman.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato pembukaan KTT ke-19 ASEAN di Bali, antara lain menyatakan bahwa kemajuan yang telah dicapai ASEAN sampai saat ini terutama bersumber dari kemampuan ASEAN untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia. Hal ini terbukti dari berbagai transformasi secara bertahap sejak terbentuknya ASEAN pada tahun 1967, negara-negara anggota ASEAN baik secara individu maupun kolektif memberikan kontribusinya dalam mencari solusi dari masalah-masalah global.
Untuk itu, perlu dilakukan upaya bersama guna meningkatkan peran ASEAN secara kolektif di tingkat global dengan merancang suatu platform bersama bagi isu-isu global. Upaya ini dapat dikembangkan dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan selama ini di tingkat multilateral/global baik itu secara individu maupun kolektif.
Hal ini juga dimaksudkan untuk mewujudkan visi ASEAN beyond 2015 yang bercirikan peranan global ASEAN yang lebih terkoordinasi, koheren, dan kohesif guna mencapai tingkat optimum pada tahun 2022.
Sebelumnya, pada KTT ke-18 ASEAN di Jakarta bulan Mei 2011 para Leaders telah menyepakati ASEAN Joint Leaders’ Statement on the ASEAN Community in a Global Community of Nations, sebuah Pernyataan Bersama yang pada intinya berisi kesepahaman bahwa ASEAN selama ini telah berkontribusi pada isu-isu global secara individual, termasuk berperan aktif di PBB. (genk)

6th East Asia Summit expected to adopt Bali Principle and Connectivity

The 6th East Asia Summit (EAS) will be convened in Bali, Indonesia on 19 November 2011. The Summit will be chaired by H.E. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, President of the Republic of Indonesia, as Chair of ASEAN and attended by Heads of State/Government of ASEAN Member States, Australia, China, India, Japan, ROK, and the USA. Besides, the Summit will also be attended by the Foreign Ministers of New Zealand and the Russian Federation to represent their respective leaders. The Secretary General of ASEAN will also be present at the Summit.
 The 6th East Asia Summit (EAS) will consist of two sessions: plenary and retreat, and will discuss on various broad and strategic issues of common concern at the regional and international levels, with the view to promote and maintain peace and stability in the region. Furthermore, the Summit is expected to discuss on ways to enhance and strengthen the cooperation within five priority areas of the EAS namely finance, energy, education, communicable diseases, and disaster management.
At the Summit, the Leaders are expected to adopt two declarations as the outcome documents of 6th East Asia Summit (EAS), namely (1) Declaration of the EAS on the Principles for Mutually Beneficial Relations, and (2) Declaration of the 6th East Asia Summit on ASEAN Connectivity. The first Declaration contains basic norms and common principles taken from various previous basic documents including the UN Charter, TAC and other arrangements among EAS participating countries, which will serve as guidance for the conduct of EAS participating countries towards promoting and maintaining peace, stability and prosperity in the region.
The second Declaration includes connectivity as one of key area of cooperation of the East Asia Summit besides the existing five priorities. This Declaration will inter alia support and facilitate further cooperation between ASEAN and the other EAS participating countries in the Connectivity initiative, development of a regional public-private partnership (PPP) development agenda and promote greater engagement and cooperation in people-to-people connectivity. (genk)

9th ASEAN-India Summit to take place in Bali on 19 November 2011

The 9th ASEAN-India Summit will be convened in Bali, Indonesia on 19 November 2011. The Summit will be chaired by the President of the Republic of Indonesia, H.E. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono as Chair of ASEAN, and attended by the Heads of State/Government of the ASEAN Member States and the Prime Minister of India, H.E. Dr. Manmohan Singh. The Secretary General of ASEAN will also be in attendance.
The Summit will deliberate efforts to maintain the peace, security and stability in the region and take stock on cooperation between ASEAN and India. Moreover, the Summit is also to discuss on ASEAN-India cooperation related to connectivity, people-to-people contact, economic and trade relations, and efforts to narrowing development gap among ASEAN Member States. Special attention will also be focused on a number of issues such as enhancing cooperation in disaster management and response, combating transnational crimes and non- traditional security issues as well as food and energy security.
At the Summit, the Leaders of ASEAN and India will also exchange of views concerning the ASEAN-India Commemorative Summit to celebrate the 20th Anniversary of ASEAN-India dialogue relations in New Delhi, India. They will also discuss on activities to celebrate the commemoration.
The Summit will deliberate over further actions to implement the Plan of Action 2010-2015 and consider progress report of the ASEAN-India Eminent Persons Group on charting the future direction of the ASEAN-India cooperation. (genk)

Obama: Kesepakatan Lion dan Boeing Hasilkan 100.000 Pekerjaandi AS

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut kesepakatan bisnis antara sebuah perusahaan AS dan satu maskapai nasional Indonesia sebagai kesepakatan bisnis yang besar.

"Dan apa yang kita lihat di sini, kesepakatan bernilai miliaran dolar antara Lion Air, salah satu maskapai penerbangan dengan pertumbuhan tercepat tidak hanya di wilayah ini, namun di dunia dan Boeing akan menghasilkan lebih dari 100.000 pekerjaan di Amerika Serikat untuk jangka waktu panjang," kata Obama di sela-sela penandatanganan kesepakatan bisnis tersebut, Jumat (18/11).
Dia juga menegaskan bahwa AS memiliki investasi perdagangan dan peluang komersial yang luar biasa di kawasan Asia Pasifik. "Baik, saya hanya ingin membuat sebuah pernyataan singkat. Ini adalah contoh luar biasa dari investasi perdagangan dan peluang komersial yang ada di kawasan Asia Pasifik," katanya.
Obama mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ini dia telah berbicara tentang bagaimana memastikan kehadiran di wilayah Indonesia yang dapat langsung berkaitan dengan lapangan pekerjaan di Amerika. "Ini merupakan kesepakatan bisnis terbesar, karena Boeing akan membuat lebih dari 200 pesawat terbang yang akan dijual. Pemerintah AS dan Ex-Im Bank, pada khususnya, menjadi kunci dalam memfasilitasi kesepakatan ini," katanya.
Obama mengucapkan terima kasih kepada para pejabat pemerintah yang berupaya agar hal ini terwujud. Ini merupakan salah satu contoh bagaimana pihaknya akan mencapai tujuan jangka panjang yang saya tetapkan, yaitu meningkatkan ekspor AS sebanyak dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Khusus kepada Lion, Obama juga mengucapkan selamat atas keberhasilannya yang dinilainya luar biasa. "Saya juga memberi selamat kepada Boeing yang telah membuat pesawat terbang hebat, termasuk yang saya tumpangi ini," katanya.
Obama mengatakan penumpang di kawasan ini akan memperoleh manfaat dari maskapai penerbangan yang baik. "Selain itu, para pekerja kami di AS akan dapat memperoleh keamanan pekerjaan dan dapat menghasilkan produk yang bagus buatan Amerika," katanya.(MC ASEAN/dry)

4th ASEAN-UN Summit in Bali will discuss enhancing cooperation between the two parties

The 4th ASEAN-United Nations (UN) Summit will be convened in Bali, Indonesia on 19 November 2011. The Summit will be co-chaired by the President of the Republic of Indonesia, H.E. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono as Chair of ASEAN, and H.E. Mr. Ban Ki-moon, Secretary-General of the United Nations. The Summit will be attended by the Heads of State/Government of the ASEAN Member States and the Secretary General of ASEAN.
The Summit will be discussing on efforts to enhance partnership between ASEAN and the United Nations, including UN assistance to ASEAN in the implementation of the MDGs; collaboration through exchanges of best practices and capacity building initiatives aimed at enhancing the promotion and protection of human rights; exchange of experiences and best practices through a series of ASEAN-UN seminars, workshops and trainings on issues such as preventive diplomacy, conflict resolution, peace-keeping and peace-building; maritime security and anti piracy, preparation and implementation of the ASEAN-UN Strategic Plan of Action on Disaster Management 2011 – 2015.
Other topics to be discussed at the Summit will also include economic and financial issues and other international and regional issues of common concerns. The ASEAN-UN Summit is expected to adopt Joint Declaration on Comprehensive Partnership between ASEAN and the UN and issue a Co-Chair Statement on the 4th ASEAN-UN Summit. (genk)

KTT ASEAN +3 Bahas Pelaksanaan Kerjasama Hingga 2017

Para pemimpin negara anggota ASEAN menghadiri KTT ke-14 ASEAN+3 yang melibatkan China, Jepang, dan Korea Selatan. KTT ke-14 ASEAN+3 membahas pendalaman kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan perdamaian kawasan. Selain itu, juga dibahas kemajuan dari pelaksanan rencana kerja sama ASEAN+3 hingga 2017.

Rangkaian pertemuan diawali peresmikan ASEAN-China Center yang menandai peringatan 20 tahun hubungan ASEAN dan China. Berdasarkan keterangan pers dari Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Kementerian Luar Negeri, Jumat (18/11), ASEAN-CHINA Center dibentuk untuk mendukung kerja sama kedua pihak dalam bidang perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, dan kebudayaan.
Para pemimpin negara ASEAN juga menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Wen Jiabao dalam KTT ke-14 ASEAN-China. Dalam pertemuan itu akan dibahas upaya China dan ASEAN dalam menjaga stabilitas, keamanan, dan perdamaian di kawasan, termasuk di wilayah Laut China Selatan
Selain itu, akan dibahas arah kerja sama dialog ASEAN-China, termasuk kemajuan dari pelaksanaan rencana aksi pernyataan bersama tentang kerja sama kedua pihak pada 2011-2015. Disamping dimulainya rangkaian pertemuan ASEAN dengan para mitranya di kawasan Asia Timur dan Pasifik, yaitu dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Pertemuan para pemimpin negara ASEAN dengan tiga mitranya di kawasan Asia Timur itu juga akan ditandai dengan peresmian Macroeconomic Research office (AMRO), penandatanganan perjanjian ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR), dan peluncuran ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management (AHA Centre).
Sedangkan pada KTT ke-14 ASEAN-Jepang akan dibahas kerja sama untuk keterhubungan ASEAN, peningkatan ekonomi dan perdagangan, serta upaya memperkecil kesenjangan pembangunan di antara negara-negara ASEAN. Selain itu, kedua pihak juga akan memberikan perhatian khusus pada peningkatan kerja sama dalam manajemen penanganan bencana alam dan mengatasi kejahatan transnasional.
Pertemuan para pemimpin ASEAN dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihiko Noda itu juga akan mengadopsi pernyataan bersama untuk mempercepat kerja sama strategis ASEAN-Jepang dalam bentuk rencana aksi periode 2011-2015.
Sedangkan dalam pertemuan para pemimpin negara anggota ASEAN dengan Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak pada KTT ke-14 ASEAN-Korea Selatan akan dibahas kerja sama dalam bidang keterhubungan ASEAN, pertumbuhan ekonomi yang berbasis lingkungan, masalah perdagangan, dan juga pengurangan kesenjangan pembangunan di antarnegara anggota ASEAN.
Pembahasan khusus akan dilakukan oleh kedua pihak meliputi peningkatan kerja sama bidang pertanian yang meliputi pengolahan, penyimpanan, dan distribusi pangan seperti yang diatur dalam ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve Agreement (APTERR).
Untuk pertemuan ke-3 para pemimpin negara anggota ASEAN dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, akan dibahas upaya peningkatan kerja sama ASEAN-AS pada tingkat strategis termasuk pembentukan ASEAN-US Eminent Person Group. Kedua pihak dalam pertemuan itu akan fokus pada perkembangan reformasi politik di Myanmar serta Kawasan Bebas Nuklir ASEAN, serta kerja sama memberantas terorisme.
Selain itu, juga akan dibahas upaya pemulihan ekonomi global, ketahanan pangan dan energi, dan juga pencapaian tujuan pembangunan milenium, serta upaya pengurangan kesenjangan di antara negara-negara anggota ASEAN.(MC ASEAN/ismadi/dry)

Keamanan Laut China Selatan Kunci Sukses ASEAN-China Center

Perdamaian di Laut China Selatan menjadi kunci suksesnya peningkatan hubungan negara-negara anggota ASEAN dengan China.

Para pemimpin negara-negara ASEAN dan Perdana Menteri Cina Wen Jiabao, secara simbolis,  meresmikan ASEAN-China Centre di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Jumat (19/11) Jumat (18/11). Acara ini sebagai momentum hubungan baik antara negara-negara ASEAN dan China yang telah terjalin selama 20 tahun.
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pembukaan ASEAN-China Commemorative Meeting yang mengawali penandatanganan, mengatakan kemitraan ASEAN dengan China menunjukkan kemajuan pesat dan optimisme peningkatan perdagangan dan arus invetasi. "Dengan telah dilengkapinya keseluruhan kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area, maka kita sungguh optimis untuk mencapai target perdagangan US$500 miliar dan menaikkan volume investasi China ke ASEAN pada 2015," ujar Presiden RI.
Peningkatan kerjasama ekonomi dalam bidang perdagangan dan investasi serta infrastruktur Komunitas ASEAN merupakan bahasan utama dalam pertemuan tersebut. ASEAN menyampaikan penghargaan terhadap komitmen partisipasi China dalam materplan Konektivitas ASEAN 2015 melalui proyek pembangun infrastruktur transportasi darat, udara dan laut. "Ini akan memperkokoh dan membantu pembangunan kawsan kita secara berkesinambungan," ujar SBY.
ASEAN-China Center dibentuk untuk mendukung kerjasama kedua pihak dalam bidang perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, dan kebudayaan. Sekretariat lembaga ini berada di Beijing, Cina.
Di samping beberapa isu mengenai stabilitas politik dan keamanan di Laut China Selatan, Presiden SBY mengingatkan agar dinamika yang terjadi dapat dikelola dengan mengedepankan pendekatan damai, sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap momentum pertumbuham ekonomi di Asia Pasifik.

"Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) di Bali pada Juni 2011 sangat menggembirakan. Kita berharap acuan itu semakin membangun perspektif bersama mengenai arti penting keamanan dan stabilitas di Laut China Selatan. Kita mendorong agar ini diterjemahkan menjadi proyek-proyek kerjasama konkret dan membangun dalam semangat perdamaian," papar SBY.
Beberapa negara anggota ASEAN memiliki sengkata perbatasan di Laut Cina Selatan, baik antara satu sama lain maupun dengan China. Selain itu, ada rencana AS menerjunkan tambahan pasukan di pangkalan militernya di Darwin, Australia, pada 2012. Penambahan tersebut otomatis berpengaruh pada konflik China-AS, sebab AS telah menempatkan pasukan di pangkalan militernya di Jepang dan Korea Selatan. ASEAN sepakat memilih berhati-hati menanggapi manuver AS tersebut. (MC ASEAN/dry)

Kamis, 17 November 2011

Dari Kuta Menuju Komunitas ASEAN

Pantai Kuta, sebagai salah satu ikon wisata Pulau Dewata, menyimpan potensi tersendiri bagi terwujudnya Komunitas ASEAN 2015. Sejumlah pedagang di kawasan tersebut memiliki ikatan tersendiri dengan para wisatawan yang berasal dari sekitaran kawasan ASEAN.

Gebyar perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi ke-19 Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di kawasan Nusa Dua, nyaris tak berpengaruh langsung bagi masyarakat di kawasan Pantai Kuta. Tidak pula bagi wisatawan mancanegaranya.
Sejumlah wisatawan asing dari beberapa negara Eropa, enggan memberikan komentar tentang KTT ASEAN. Selain negaranya tidak ada terkait, mungkin juga karena ketidaktahuan mereka tentang apa yang dibahas. “Saya dari Swedia, saya tidak tahu apa itu ASEAN Summit,” kata seorang gadis berambut pirang yang tengah asik berjemur di pesisir Pantai Kuta, Kamis (17/11).
Jarak Kuta ke Nusa Dua  terpisah sekitar 20 kilometer atau 30 menit perjalanan dalam kondisi normal --bisa satu jam lebih bila macet. Hal ini boleh jadi sebagai sebab masyarakat dan wisatawan di sekitar Kuta tak begitu merasakan nuansa yang ada di Nusa Dua. "Saya dengar ada KTT, tapi saya gak tahu apa itu...," ujar Ni Luh Ayu kepada Info Publik di Jalan Pantai depan gerai baju dagangannya.
Ni Luh juga merasa tidak ada pengaruh adanya KTT ASEAN saat ini dengan laris tidaknya jualan. Yang pasti, ia tetap melempar senyum ramah kepada setiap wisatawan yang melintas. Ia tak pernah membeda-bedakan pelayanan. Dan ternyata, ia memiliki kesan tersendiri terhadap wisatawan dari sejumlah negara anggota ASEAN.
“Saya suka sama turis dari Viatnam atau Filipina. Mereka kalau belanja tidak banyak menawar, berapa harga yang kita tawarkan dia langsung membayar,” katanya.
Di samping itu, ada alasan lain mengapa Ni Luh senang terhadap wisatawan asal dua negara tadi. “Mereka bilang senang belanja di sini, karena aman dan orangnya ramah-ramah. Mereka juga menilai belanja harganya tidak mahal,” ujar pedagang pakaian Bali ini. Tersirat harapan dari Ni Luh akan lebih banyak hadirnya wisatawan yang menguntungkan, seperti dari Vietnam atau Filipina, atau dari kawasan ASEAN lainnya.(MC ASEAN/astra/dry)

HIPMI Dorong KTT ASEAN Wujudkan Fair Trade

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) berharap pertemuan KTT ke-19 ASEAN dapat menghasilkan tindakan konkret yang memberikan dampak langsung bagi perkembangan dunia usaha, khususnya Young Enterpreneur di Indonesia dan ASEAN yang dapat menjadikan Free Trade menjadi Fair Trade.

“Pertemuan ini semestinya menghasilkan tindakan konkret, sehingga HIPMI dan pengusaha lainnya di ASEAN dapat menerima dampak yang sama dari setiap agreement,” kata Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Raja Sapta Oktohari di BNDCC Nusa Dua Bali, Kamis (17/11).
Dikemukakan, ada sebuah kebutuhan membangun platform sebagai dasar dari hubungan HIPMI dengan pengusaha muda yang tergabung di negara-negara ASEAN maupun negara lain, sehingga ada hubungan yang saling menguntungkan.
HIPMI juga sangat mendukung penuh tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam ASEAN Summit. Namun pihaknya, sangat mengharapkan tindakan tersebut dapat menciptakan kesamaan dalam rangka mengakselerasi kemampuan maupun daya saing.
Dalam kaitannya menuju hal tersebut, menurut Sekjen Hipmi Harry Warganegara, sejak 2008 HIPMI telah menginisiasi dibentuknya ASEAN-China Young Enterpreuneur Asociation. “Sudah ada pertemuan dua kali setahun untuk membahas isu yang ada, satu yang menjadi concern HIPMI  adalah masalah UKM, kalau memang negara regional maupun dunia melihat sebagai mitra, HIPMI menginginkan tidak hanya dianggap sebagai pasar semata, tetapi kolaborasi yang konkret antara UKM ASEAN dengan negara lain, khususnya yang sudah maju industrinya," papar Harry.
Ia mencontohkan bagaimana membuat kerjasama UKM di ASEAN dengan industri di China maupun di Jepang dalam bidang  otomotif. Hipmi juga menyampaikan kemungkinan kerjasama industri bahan baku khusus otomotif yang dibuat di ASEAN, yang akan disuplai ke Jepang atau Korea dan Cina, bahkan hingga ke  Amerika dan Eropa.
”Inilah yang ingin kita usulkan tidak hanya ASEAN sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra untuk menumbuhkan UKM ke depan. Inilah salah satu yang akan kita suarakan di dalam forum ini," ungkapnya.(MC ASEAN/dry)

Indonesia Usulkan EED Dalam KTT Ke-19 ASEAN

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah Indonesia mengusulkan sekaligus mencetuskan suatu program, yakni Entrepreneurship and Enterprise Development (EED) atau Program Kewirausahaan dan Pengembangan Usaha dalam KTT ke-19 ASEAN.

"Program ini diusulkan dalam rangka memberdayakan masyarakat miskin dan membantu usaha kecil dan menengah," kata Hatta di Bali International Convention Center, Nusa Dua Bali, Kamis (17/11).
Menurutnya, dalam rapat ASEAN Community Economic Council telah disepakati sejumlah pilar penting untuk menyatukan masyarakat ekonomi ASEAN pada 2015. Salah satu pilar adalah mengurangi kesenjangan ekonomi dan kemiskinan di kawasan Asia Tenggara melalui penyediaan fasilitas pendanaan untuk pemberdayaan masyarakat miskin dan kelompok usaha kecil dan menengah (UKM).
Selain itu, dalam program EED diusulkan ada semacam fasilitas kredit bagi masyarakat miskin serta pengusaha kecil dan menengah yang menyerupai kredit usaha rakyat (KUR), sehingga kelompok UKM menjadi bagian dari rantai suplai ekonomi kawasan ASEAN. “Intinya mempercepat peningkatan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan pembangunan di antara negara-negara ASEAN,” tuturnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Gusmardi Bustami mengatakan upaya mengurangi kesenjangan ekonomi antar-negara merupakan isu penting yang jarang dibahas dalam rapat pimpinan negara anggota ASEAN. Karenanya, lanjut Bustami, program EED menjadi begitu penting untuk dibahas mengingat jadwal pembentukan masyarakat Komunitas ASEAN 2015 semakin mendekat.
"Tapi, sejauh ini, konsep dan mekanisme pelaksanaan program EED belum jelas, karena baru sebatas usulan yang masih dibahas," katanya.(MC ASEAN)

ASEAN Foreign Minister Sign Document on AHA Center

ASEAN Foreign Ministers on Thursday at the Bali International Conventional Center, Nusa Dua, Bali reached an agreement as marked with the signing of a document on operation of ASEAN Humanitarian Aid center. Speaking in a press conference, Foreign Minister Marty Natalegawa said the AHA was exactly a center to help disaster-stricken people through the handling of the disaster.

The AHA Center was established through the signing of ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) by ASEAN foreign ministers in 2005. Then in 2007, the ASEAN foreign ministers confirmed Indonesia as the place for the AHA center and in the 2010 ASEAN Summit, the foreign ministers agreed to the operation of AHA center in 2011. The center constitutes a strategic instrument to materialize political and security, economic and socio-cultural pillars to prevail within the community of ASEAN.
In addition, the center will also be able to give more benefit to ASEAN as well as provide the right, quick and accurate information. Hence, it is also expected to become a facilitator in the distribution of humanitarian aid in the form of fund, volunteers and equipments. In principle, AHA should come up as the center of excellence in the handling of disaster in ASEAN region. Objectives of AHA center are to facilitate, coordinate and collaborate with ASEAN member countries and international organizations like the United Nations.
The implementation of AHA could be seen firstly as a center of information on disaster. Secondly it is also an agent to coordinate the mobilization of aid and thirdly is a center to coordinate the operation or joint emergency response. Fourthly it is also a center of administration coordination and fifthly is a center of research to survey disaster.
The AHA center in Indonesia has a regional function which has to do with Tsunami Early Warning System (InaTEWS), thus acting as a regional watch provider in the context of tsunami, while another function is often linked to the ASEAN Earthquake Information System. In its operation, the AHA center does not issue data by itself, but more than that it also collects and consolidate data from various resources like BMKG and BNPB. Then the center distributes the data to the disaster-handling agencies of other countries. (MC ASEAN)

3rd ASEAN-US Leaders Meeting to be convened in Bali on 18 November 2011

3rd  ASEAN-United States of America (USA) Leaders’ Meeting will be convened in Bali, Indonesia on 18 November 2011. The Meeting will be co-chaired by the President of the Republic of Indonesia, H.E. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono as Chair of ASEAN and the Honourable Barack Obama, President of the United States of America, and attended by the Heads of State/Government of the ASEAN Member States. The Secretary General of ASEAN will also be in attendance.
The Meeting is expected to take stock the ASEAN-US cooperation and to discuss on efforts to elevate the ASEAN-U.S. partnership to a strategic level, including through the establishment of the ASEAN-US Eminent Persons Group. Furthermore, the Leaders will adopt the Plan of Action to Implement the ASEAN-U.S. Enhanced Partnership for Enduring Peace and Prosperity 2011-2015, issue a joint statement of the third ASEAN-US Leaders Meeting.
It will also discuss on challenges to global economic recovery, food and energy security, and the achievement of the Millennium Development Goals (MDG) and narrowing development gap in ASEAN.
Other issues to be focused on will include the political development in Myanmar, the Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ), cooperation on combating international terrorism and other trans-national crimes.(genk)

14th ASEAN-China Summit as Commemorative Summit to be held in Bali on 18 November 2011

The 14th ASEAN-China Summit as a Commemorative Summit to celebrate the 20th anniversary of the ASEAN-China Relations will be convened in Bali, Indonesia on 18 November 2011. The Summit will be chaired by the President of the Republic of Indonesia, H.E. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono as Chair of ASEAN, and attended by the Heads of State/Government of the ASEAN Member States and the Premier of the State Council of the People’s Republic of China, H.E. Wen Jiabao. The Secretary General of ASEAN was also in attendance.
The Summit will also discuss the efforts of ASEAN and China to maintain the peace, security and stability in the region, including those related to South China Sea.
Furthermore, the Summit will take stock on cooperation between ASEAN and China and to deliberate the future direction of the dialogue partnership, including the progress of the implementation of the Plan of Action to Implement the Joint Declaration for the period of 2011-2015.
The Summit is also expected to adopt the ASEAN-China Joint Leaders’ Statement on the 14th ASEAN-China Summit as a Commemorative Summit.
Soon after the Summit, the Head of States/Governments of ASEAN Member States and China will officially launch the ASEAN China Centre. The Centre is aimed to support cooperation on trade, investment, tourism, education and culture between ASEAN and China.(genk)

Presiden RI Nyatakan Keprihatinan Atas Bencana Banjir

Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sambutannya pada  pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-19 ASEAN di Nusa Dua Bali, Kamis (17/11), menyatakan keprihatinannya atas bencana banjir yang melanda beberapa negara di ASEAN.

Bencana banjir itu menimbulkan kerugian harta benda yang besar, bahkan ratusan korban jiwa. “Bantuan uluran tangan yang telah Indonesia berikan tak lain untuk solidaritas sesama ASEAN,” katanya.
KTT ASEAN sendiri, lanjut Presiden RI, akan membahas perkembangan menuju pencapaian Komunitas ASEAN 2015 dan implementasi Piagam ASEAN, yang mencakup tiga Pilar Komunitas ASEAN dan Konektivitas ASEAN.
Selain itu, para pemimpin ASEAN akan melakukan pembahasan mengenai topik ASEAN dan kawasan yang lebih luas, yang mencakup hubungan eksternal ASEAN dan KTT Asia Timur. Pemimpin ASEAN juga akan membahas topik mengenai Komunitas ASEAN dalam komunitas global bangsa-bangsa serta melakukan pertukaran pandangan mengenai perkembangan dan situasi terkini di kawasan, pemulihan ekonomi global, G-20 ketahanan pangan dan energi, perubahan iklim, serta isu-isu lain yang relevan bagi ASEAN.
KTT diharapkan akan menghasilkan beberapa dokumen, termasuk Deklarasi Bali mengenai komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa-bangsa.
Presiden juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan atas dukungan penuh dari seluruh negara anggota ASEAN selama masa keketuan Indonesia. Keberhasilan penyelenggaraan KTT ke-18 ASEAN di Jakarta sama halnya dengan penyelenggaraan SEA Games 2011 di Palembang dan Jakarta adalah berkat dukungan tersebut.
“Dengan dukungan tersebut kita telah memperoleh banyak capaian sejak diselenggarakannya KTT ke-18 di Jakarta Mei 2011, saya meyakini dukungan serupa akan diberikan dalam penyelenggaran KTT ke-19 di Bali ini,” ungkapnya.
Dikemukakan Presiden, Bali mempunyai makna khusus bagi kerjasama  ASEAN, karena di tempat ini telah tercapai beberapa kesepakatan penting yang menjadi pijakan dan arah perkembangan kerjasama ASEAN. Pada 1976 telah dihasilkan Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dilahirkan Bali Concord I. Dokumen tersebut mengatur pola perilaku antar negara anggota, khususnya untuk tidak menggunakan kekerasan dan mengedepankan cara-cara damai.
Semangat yang tertuang dalam TAC tersebut juga telah banyak diterima oleh banyak negara non ASEAN. Dan, hingga saat ini sebanyak 29 negara telah menjadi negara pihak dari TAC. Pada 2003 Bali kembali mencatat sejarah dengan dilahirkannya Bali Concord II, dengan dilahirkannya ini, negara-negara ASEAN sepakat untuk membangun komunitas berdasarkan tiga pilar, yakni pilar politik dan keamanan, pilar ekonomi dan pilar Sosial Budaya.
“Kita bergembira setelah Bali Concord 2 ASEAN kemudian menyepakati ASEAN Charter yang  mengukuhkan ASEAN sebagai role space organization. Pertemuan KTT ke-19 ASEAN ini,  diharapkan akan melahirkan Bali Concord 3 yang akan memetakan jalan ke depan bagi interaksi Komunitas ASEAN dengan komunitas global bangsa-bangsa,” kata Presiden RI.(MC ASEAN/juliyah/dry)

Tenun Desa Sidemen Jajal Konektivitas ASEAN

Pengembangan kain ikat tenun di Desa Sidemen, Karang Asem, Bali merupakan upaya mengenalkan nilai-nilai seni dan budaya bangsa sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, sehingga dapat meningkatkan tarap hidup masyarakat. Hasil karya kain ikat tenun telah masuk kepada pasar ekspor mancanegara dengan desain yang menyesuaikan modernitas, sehingga dapat diterima negaranegara lain.

Delegasi KTT ke-19 ASEAN dari berbagai negara, bersama Menteri PP dan PA Linda Gumelar dan Menkes Endang Sedyaningsih dan Kepala Bappenas  Armida Salsiah Alisjahbana mengunjungi Usaha Kecil Menengah (UKM) penghasil kain ikat  tenun di Desa Sidemen Bali atas binaan BUMN Garuda. “Saat ini, yang perlu dilakukan adalah pendampingan, bagaimana UKM tersebut dapat meningkatkan kualitasnya, marketingnya, teknik-tekniknya, agar ke depan produk yang dihasilkan lebih baik lagi,” kata Linda Gumilar di Desa Sidemen Bali, Rabu (16/11).
Menurutnya, karya-karya yang dihasilkan oleh UKM di desa Sidemen ini merupakan bentuk mengangkat nilai-nilai budaya bangsa. Produk yang dihasilkan nya bukan hanya pada event nasional tapi sudah mencapai event internasional. Untuk meningkatkan kualitas UKM-UKM di Bali, maka dibutuhkan sinergi antara BUMN dan Pemerintah, Kalau ada UKM yang berpotensi maka harus dibina dengan baik, kemudian UKM yang dinilai bagus kualitasnya harus diberikan pendampingan.
“Jadi nanti Pemerintah dan BUMN tidak hanya memberikan modal begitu saja tapi juga harus dapat membina, mendampingi, dan mewadahi hasil-hasil karya meraka pada pameran-pemaran tingkat event nasional maupun  internasional,” katanya.
Desa Sideman ada lima perusahaan tenun ikat dengan mempekerjakan tenaga pengrajin seluruhnya tidak kurang dari 240 orang. Hasil kerajinan tenun daerah tersebut pada umumnya dikerjakan oleh para pengrajin, baik laki maupun perempuan, dengan alat-alat yang masih sangat sederhana, yaitu alat tenun bukan mesin (ATBM).
Pekerja Tenun di Desa Sidemen, Wayan Budiyani mengaku dirinya senang bekerja di sini, penghasilannya meningkat dari tahun-ketahun. “Awalnya Rp15.000 per kain terus meningkat Rp25.000 dan sekarang menjadi Rp30.000 perkain. Satu kain bisa diselesaikan selama satu hari,” katanya.
Wayan berharap dirinya dapat membuka usaha sendiri untuk mengembangkan kain ikat tenun khas Bali. Dengan begitu ia dapat lebih meningkatkan penghasilannya.
Sedangkan pekerja tenun laki-laki, Iwayan Agus Sudiara mengaku dirinya bekerja sambil belajar. “Kalau pagi saya sekolah dan sepulang sekolah saya bekerja tenun, sekligus membantu biaya sekolah,” katanya.(MC ASEAN/wandi/dry)

ICT Permudah Hubungan Ekonomi ASEAN

Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring mengatakan Information and Communications Technology (ICT) merupakan jembatan untuk mewujudkan ekonomi yang murah mudah dan aman, mengingat dengan diberlakukannya Konektivitas ASEAN 2015 maka komunikasi dan informasi yang dilakukan akan mudah dan murah karena bebas rooming.

“Dengan diberlakukannya bebas rooming sesama negara ASEAN maka akan mempermudah hubungan ekonomi antar negara, sebagaimana diberlakukannya Visa tunggal bagi negara ASEAN,” kata Tifatul Sembiring di Media Center BNDCC, Nusa Dua Bali, Kamis (17/11).
Menurutnya, ASEAN Connectifity tidak hanya berhubungan pada insfratuktur, ekonomi sosial dan budaya, melainkan juga connect terhadap ICT.
Kalau dulu ASEAN hanya berhubungan antar negara dan pemerintah, ASEAN saat ini akan berupaya berhubungan antar masyarakat Asia. Baik dibidang keamanan, ekonomi dan sosial budaya.
“Sehingga ASEAN Community diharapkan menjadi kekuatan besar yang melebur dalam bidang keamanan, ekonomi,  budaya dan sosial. Ini tidak bisa dianggap sepele oleh negara lain, karena akan bergerak maju kemasa depan,” katanya.
Lebih lanjut Tifatul mengatakan,  tidak ada proteksi terhadap ICT, karena semua masyarakat bisa membagikan informasinya. Kita juga tidak bisa mengurung diri terhadap teknologi. “Namun yang pokok harus menyesuaikan diri terhadap perkembangan informasi,” tukasnya. (MC ASEAN/wandi/dry)

Rabu, 16 November 2011

Komunitas Bloger Sambut Komunitas ASEAN

Sedikitnya, 200-an pegiat yang tergabung dalam komunitas blogger, perwakilan dari 10 negara-negara anggota ASEAN, berharap turut berkiprah membawa ASEAN lebih dekat ke masyarakat.

Guna membentuk Komunitas ASEAN 2015, dengan meningkatkan pengetahuan publik serta menjangkau masyarakat luas, Indonesia selaku Ketua ASEAN 2011, bersama Komunitas Blogger ASEAN menyelenggarakan Konferensi Blogger ASEAN. “Konferensi Blogger 2011 diharapkan membawa ASEAN lebih dekat dengan masyarakat dan menjadi forum untuk berbagi gagasan tentang implementasi piagam ASEAN menuju pembentukan komunitas ASEAN 2015,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika RI Tifatul Sembiring di Museum Pasifika, Nusa Dua Bali, Rabu (16/11).
Konferensi yang bertemakan ASEAN Kini dan Kerjasamanya dengan Para Mitra Wicara ASEAN ini dihadiri berlangsung hingga Kamis (17/11).
ASEAN Blogger Community (ABC) digagas oleh para blogger di berbagai kota di Indonesia. Pada saat Kementerian Luar Negeri menyelenggarakan sosialisasi ASEAN di berbagai kota. Para blogger di Tanah Air menginginkan agar ASEAN tidak hanya merupakan forum para elitis, diplomat dan pemerintah saja, namun juga penghubung dan komunikasi di antara masyarakat.
ABC Chapter Indonesia diresmikan oleh Diren Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Djauhari Oratmangun pada 10 Mei 2011 dan bersama para blogger dideklarasikan pada 11 Mei 2011.
Menurut Presiden ABC Imam Brotoseno dari Indonesia, pertemuan pertama ASEAN Blogger Conference membahas perkembangan pemanfaatan media sosial online di negara-neagra anggota ASEAN dan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh para blogger ASEAN untuk pencapaian Komunitas ASEAN 2015 melalui peran aktif masyarakat di negara masing-masing.(MC ASEAN/dry)

ASEAN di Mata Anak-anak

Percepatan pembentukan Komunitas ASEAN dari 2020 menjadi 2015, disepakati oleh para Kepala Negara ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN. Komunitas ASEAN 2015 terbagi dalam tiga pilar, yaitu: Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN.

Kerjasama di bidang sosial-budaya menjadi salah satu titik tolak utama untuk meningkatkan integrasi ASEAN melalui terciptanya “a caring and sharing community”, yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi.
Kerjasama sosial-budaya mencakup kerjasama di bidang kepemudaan, wanita, kepegawaian, penerangan, kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, penanggulangan bencana alam, kesehatan, pembangunan sosial, pengentasan kemiskinan, dan ketenagakerjaan serta Yayasan ASEAN.
Upaya lain untuk meningkatkan pemahaman kebudayaan ASEAN adalah dengan menyelenggarakan ASEAN Fair 2011, yang pada 24 Oktober 2011 telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ASEAN Fair 2011 yang akan berlangsung selama satu bulan penuh ini merupakan salah satu rangkaian acara KTT ke-19 ASEAN dan East Asia Summit, 17-18 November 2011.
Presiden SBY menerangkan ide ASEAN Fair 2011 segaris dengan visi ASEAN Charter yang menyatukan masyarakat ASEAN di bawah one vision, one identity, and one caring and sharing community. "Kita dapat mempromosikan identitas ASEAN dengan meningkatkan saling pengertian dan apresiasi terhadap perbedaan dan persamaan dalam sejarah, warisan budaya dan cara hidup kita. Kebudayaan adalah bahasa universal yang menyatukan negara-negara ASEAN," ujar Presiden SBY, beberapa waktu lalu.
Menurut Presiden, ada dua tujuan utama dalam penyelenggaraan ASEAN Fair 2011. "Pertama adalah mempromosikan kebudayaan ASEAN melalui materi-materi pameran yang menjelaskan sejarah, kebudayaan dan cara hidup masyarakat ASEAN dengan multimedia, buku, lukisan anak-anak, dan benda-benda kebudayaan seperti lukisan dan tekstil. Kedua, untuk merayakan kekayaan industri kreatif ASEAN melalui musik, film, buku, pertunjukan kebudayaan, barang-barang seni, tekstil," katanya.
Menteri Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Mari E Pangestu juga sempat mengatakan bahwa Indonesia sebagai Ketua KTT ke-19 ASEAN berinisiatif untuk menggelar ASEAN Fair yang akan berlangsung selama satu bulan untuk memperkuat sosial kebudayaan dan meningkatkan kesadaran masyarakat ASEAN mengenai perbedaan dan persamaan kebudayaan, tradisi, dan cara hidupnya.
Keanekaragaman budaya negera-negara Asia Tenggara (ASEAN) tercermin dalam seribu lukisan anak yang ditampilkan dalam 'Pameran 1000 Lukisan Anak-anak ASEAN' di ajang ASEAN Fair 2011 yang berlangsung dari 1 - 23 November 2011 di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali.
Project Director ASEAN Fair 2011 Aryo Wibisono mengatakan kegiatan pameran tersebut merupakan sebuah kegiatan yang mengetengahkan kreasi dari anak-anak ASEAN.
"Jadi pameran itu tidak kurang dari 1.000 Lukisan Anak-anak ASEAN, mungkin 1.000 lebih, karena sampai sekarang jika ada yang mau menambahkan tentunya kami terima," kata Aryo di Nusa Dua Bali, Selasa (15/11).
Menurutnya, tema yang dikedepankan dalam pameran lukisan itu bermacam-macam, tapi yang mendominasi adalah tema mengenai kebudayaan masing-masing negara ASEAN. "Justru kalau saya melihat lukisan itu, seperti diajak menyelami kehidupan dari negara-negara asal anak tersebut, jadi kaya jendela untuk melongok negara ASEAN dari sudut pandang anak-anak," ungkapnya.
Ia memaparkan lukisan anak-anak ASEAN yang ditampilkan di dapat dari ratusan sekolah yang merupakan tempat anak-anak itu menimba ilmu. Dari berbagai sekolah tersebut kemudian dikumpulkan melalui kedutaan negara ASEAN yang ada di Indonesia.
"Setelah terkumpul di kedutaaan, kemudian di serahkan ke kantor Sekretariat ASEAN, dan kemudian kita tampilkan dalam pameran ini," jelasnya.
Ditambahkannya, usia anak yang ikut menyumbangkan hasil karya berupa lukisan mulai dari usia 5 tahun hingga 14 tahun. Anak - anak Indonesia merupakan penyumbang lukisan terbanyak  dalam pameran tersebut. Kemudian diikuti oleh Singapura dan Brunei Darussalam.
Penyelenggaraan Pameran '1.000 Lukisan Anak ASEAN' diusulkan pertama kali oleh Kementerian Perdagangan dengan maksud untuk mengapresiasi karya seni yang dibuat oleh anak-anak ASEAN. Pesan dari adanya pameran ini adalah untuk mengedukasi setiap orang supaya mengetahui bahwa kebudayaan ASEAN itu beranekaragam, supaya untuk menginformasikan juga kepada masyarakat yang ada, jadi dari lukisan itu sebenarnya kalau kita lihat banyak kebudayaan yang dituangkan lewat lukisan.
Aktivitas keseharian anak-anak ASEAN tercermin lewat lukisan, sehingga menggambarkan keadaan di negara mereka, yang pada akhirnya setiap orang yang melihat lukisan-lukisan yang ditampilkan seakan-akan  memandangi negara-negara ASEAN dalam sudut pandang anak-anak.
"Misalnya Singapura, mereka punya patung Singa di negaranya, sehingga banyak lukisan dari anak-anak Singapura itu menggambarkan patung kepala Singa, terus kalau di negara yang banyak kucingnya, mereka tentu ada yang menggambar kucing juga," kata Aryo.
Dalam pameran itu juga diberikan penilaian-penilaian atas lukisan yang dianggap paling baik, sehingga lukisan-lukisan terbaik diberi pita pada saat ditampilkan dalam pameran tersebut. "Setidaknya ada 20 terbaik, dinilainya oleh kurator yang ditunjuk oleh panitia, penilaiannya dari sisi kerapian, estetika, komposisi," jelasnya.(ismadi amri/dry)