Rabu, 16 November 2011

ASEAN di Mata Anak-anak

Percepatan pembentukan Komunitas ASEAN dari 2020 menjadi 2015, disepakati oleh para Kepala Negara ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN. Komunitas ASEAN 2015 terbagi dalam tiga pilar, yaitu: Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN.

Kerjasama di bidang sosial-budaya menjadi salah satu titik tolak utama untuk meningkatkan integrasi ASEAN melalui terciptanya “a caring and sharing community”, yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi.
Kerjasama sosial-budaya mencakup kerjasama di bidang kepemudaan, wanita, kepegawaian, penerangan, kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, penanggulangan bencana alam, kesehatan, pembangunan sosial, pengentasan kemiskinan, dan ketenagakerjaan serta Yayasan ASEAN.
Upaya lain untuk meningkatkan pemahaman kebudayaan ASEAN adalah dengan menyelenggarakan ASEAN Fair 2011, yang pada 24 Oktober 2011 telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ASEAN Fair 2011 yang akan berlangsung selama satu bulan penuh ini merupakan salah satu rangkaian acara KTT ke-19 ASEAN dan East Asia Summit, 17-18 November 2011.
Presiden SBY menerangkan ide ASEAN Fair 2011 segaris dengan visi ASEAN Charter yang menyatukan masyarakat ASEAN di bawah one vision, one identity, and one caring and sharing community. "Kita dapat mempromosikan identitas ASEAN dengan meningkatkan saling pengertian dan apresiasi terhadap perbedaan dan persamaan dalam sejarah, warisan budaya dan cara hidup kita. Kebudayaan adalah bahasa universal yang menyatukan negara-negara ASEAN," ujar Presiden SBY, beberapa waktu lalu.
Menurut Presiden, ada dua tujuan utama dalam penyelenggaraan ASEAN Fair 2011. "Pertama adalah mempromosikan kebudayaan ASEAN melalui materi-materi pameran yang menjelaskan sejarah, kebudayaan dan cara hidup masyarakat ASEAN dengan multimedia, buku, lukisan anak-anak, dan benda-benda kebudayaan seperti lukisan dan tekstil. Kedua, untuk merayakan kekayaan industri kreatif ASEAN melalui musik, film, buku, pertunjukan kebudayaan, barang-barang seni, tekstil," katanya.
Menteri Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Mari E Pangestu juga sempat mengatakan bahwa Indonesia sebagai Ketua KTT ke-19 ASEAN berinisiatif untuk menggelar ASEAN Fair yang akan berlangsung selama satu bulan untuk memperkuat sosial kebudayaan dan meningkatkan kesadaran masyarakat ASEAN mengenai perbedaan dan persamaan kebudayaan, tradisi, dan cara hidupnya.
Keanekaragaman budaya negera-negara Asia Tenggara (ASEAN) tercermin dalam seribu lukisan anak yang ditampilkan dalam 'Pameran 1000 Lukisan Anak-anak ASEAN' di ajang ASEAN Fair 2011 yang berlangsung dari 1 - 23 November 2011 di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali.
Project Director ASEAN Fair 2011 Aryo Wibisono mengatakan kegiatan pameran tersebut merupakan sebuah kegiatan yang mengetengahkan kreasi dari anak-anak ASEAN.
"Jadi pameran itu tidak kurang dari 1.000 Lukisan Anak-anak ASEAN, mungkin 1.000 lebih, karena sampai sekarang jika ada yang mau menambahkan tentunya kami terima," kata Aryo di Nusa Dua Bali, Selasa (15/11).
Menurutnya, tema yang dikedepankan dalam pameran lukisan itu bermacam-macam, tapi yang mendominasi adalah tema mengenai kebudayaan masing-masing negara ASEAN. "Justru kalau saya melihat lukisan itu, seperti diajak menyelami kehidupan dari negara-negara asal anak tersebut, jadi kaya jendela untuk melongok negara ASEAN dari sudut pandang anak-anak," ungkapnya.
Ia memaparkan lukisan anak-anak ASEAN yang ditampilkan di dapat dari ratusan sekolah yang merupakan tempat anak-anak itu menimba ilmu. Dari berbagai sekolah tersebut kemudian dikumpulkan melalui kedutaan negara ASEAN yang ada di Indonesia.
"Setelah terkumpul di kedutaaan, kemudian di serahkan ke kantor Sekretariat ASEAN, dan kemudian kita tampilkan dalam pameran ini," jelasnya.
Ditambahkannya, usia anak yang ikut menyumbangkan hasil karya berupa lukisan mulai dari usia 5 tahun hingga 14 tahun. Anak - anak Indonesia merupakan penyumbang lukisan terbanyak  dalam pameran tersebut. Kemudian diikuti oleh Singapura dan Brunei Darussalam.
Penyelenggaraan Pameran '1.000 Lukisan Anak ASEAN' diusulkan pertama kali oleh Kementerian Perdagangan dengan maksud untuk mengapresiasi karya seni yang dibuat oleh anak-anak ASEAN. Pesan dari adanya pameran ini adalah untuk mengedukasi setiap orang supaya mengetahui bahwa kebudayaan ASEAN itu beranekaragam, supaya untuk menginformasikan juga kepada masyarakat yang ada, jadi dari lukisan itu sebenarnya kalau kita lihat banyak kebudayaan yang dituangkan lewat lukisan.
Aktivitas keseharian anak-anak ASEAN tercermin lewat lukisan, sehingga menggambarkan keadaan di negara mereka, yang pada akhirnya setiap orang yang melihat lukisan-lukisan yang ditampilkan seakan-akan  memandangi negara-negara ASEAN dalam sudut pandang anak-anak.
"Misalnya Singapura, mereka punya patung Singa di negaranya, sehingga banyak lukisan dari anak-anak Singapura itu menggambarkan patung kepala Singa, terus kalau di negara yang banyak kucingnya, mereka tentu ada yang menggambar kucing juga," kata Aryo.
Dalam pameran itu juga diberikan penilaian-penilaian atas lukisan yang dianggap paling baik, sehingga lukisan-lukisan terbaik diberi pita pada saat ditampilkan dalam pameran tersebut. "Setidaknya ada 20 terbaik, dinilainya oleh kurator yang ditunjuk oleh panitia, penilaiannya dari sisi kerapian, estetika, komposisi," jelasnya.(ismadi amri/dry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar