Sabtu, 19 November 2011

Keamanan Laut China Selatan Kunci Sukses ASEAN-China Center

Perdamaian di Laut China Selatan menjadi kunci suksesnya peningkatan hubungan negara-negara anggota ASEAN dengan China.

Para pemimpin negara-negara ASEAN dan Perdana Menteri Cina Wen Jiabao, secara simbolis,  meresmikan ASEAN-China Centre di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Jumat (19/11) Jumat (18/11). Acara ini sebagai momentum hubungan baik antara negara-negara ASEAN dan China yang telah terjalin selama 20 tahun.
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pembukaan ASEAN-China Commemorative Meeting yang mengawali penandatanganan, mengatakan kemitraan ASEAN dengan China menunjukkan kemajuan pesat dan optimisme peningkatan perdagangan dan arus invetasi. "Dengan telah dilengkapinya keseluruhan kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area, maka kita sungguh optimis untuk mencapai target perdagangan US$500 miliar dan menaikkan volume investasi China ke ASEAN pada 2015," ujar Presiden RI.
Peningkatan kerjasama ekonomi dalam bidang perdagangan dan investasi serta infrastruktur Komunitas ASEAN merupakan bahasan utama dalam pertemuan tersebut. ASEAN menyampaikan penghargaan terhadap komitmen partisipasi China dalam materplan Konektivitas ASEAN 2015 melalui proyek pembangun infrastruktur transportasi darat, udara dan laut. "Ini akan memperkokoh dan membantu pembangunan kawsan kita secara berkesinambungan," ujar SBY.
ASEAN-China Center dibentuk untuk mendukung kerjasama kedua pihak dalam bidang perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, dan kebudayaan. Sekretariat lembaga ini berada di Beijing, Cina.
Di samping beberapa isu mengenai stabilitas politik dan keamanan di Laut China Selatan, Presiden SBY mengingatkan agar dinamika yang terjadi dapat dikelola dengan mengedepankan pendekatan damai, sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap momentum pertumbuham ekonomi di Asia Pasifik.

"Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) di Bali pada Juni 2011 sangat menggembirakan. Kita berharap acuan itu semakin membangun perspektif bersama mengenai arti penting keamanan dan stabilitas di Laut China Selatan. Kita mendorong agar ini diterjemahkan menjadi proyek-proyek kerjasama konkret dan membangun dalam semangat perdamaian," papar SBY.
Beberapa negara anggota ASEAN memiliki sengkata perbatasan di Laut Cina Selatan, baik antara satu sama lain maupun dengan China. Selain itu, ada rencana AS menerjunkan tambahan pasukan di pangkalan militernya di Darwin, Australia, pada 2012. Penambahan tersebut otomatis berpengaruh pada konflik China-AS, sebab AS telah menempatkan pasukan di pangkalan militernya di Jepang dan Korea Selatan. ASEAN sepakat memilih berhati-hati menanggapi manuver AS tersebut. (MC ASEAN/dry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar