Sabtu, 19 November 2011

Proyek Konektivitas Dibangun dari Davao hingga Bitung

Proyek konektivitas ASEAN yang menghubungkan jalur maritim di antara negara-negara anggota ASEAN akan dibangun dalam bentuk pelabuhan internasional ("hub") di Davao (Filipina) hingga Bitung (Sulawesi Utara, Indonesia).
"Kami telah melakukan kajian dalam membangun konektivitas ASEAN dari Davao ke Bitung," kata Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Djauhari Oratmangun, setelah acara ASEAN Senior Official`s Preparatory Meeting dalam kerangka KTT ASEAN di Nusa Dua, Senin (14/11).
Djauhari memaparkan, kajian tersebut merupakan bentuk dari konektivitas jalur maritim yang akan memperkuat konektivitas ASEAN yang merupakan bagian dari upaya mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015.
Pelabuhan internasional di Davao dan Bitung tersebut akan menjadi penghubung bagi berbagai pelabuhan utama di 11 negara anggota ASEAN yang diperkirakan juga akan meningkatkan kerja sama dan pertumbuhan ASEAN.
Sedangkan sumber dana untuk membangun konektivitas ASEAN beserta beragam infrastruktur yang akan menghubungkan kawasan Asia Tenggara itu antara lain berasal dari lembaga pendanaan bersama atau ASEAN Infrastructure Fund (AIF).
Sebagaimana diberitakan, pembentukan AIF merupakan inisiatif kerja sama negara-negara ASEAN bersama Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk mendirikan sebuah lembaga pendanaan bersama dalam rangka pembangunan infrastruktur di kawasan ASEAN.
AIF didirikan dengan modal awal sebesar 485,2 juta dolar AS, yang terdiri atas penyertaan modal dari negara anggota ASEAN sebesar 335,2 juta dolar AS dan penyertaan modal ADB sebesar 150 juta dolar AS.
Dari sisi negara anggota, Malaysia, sebagai Ketua Kelompok Kerja (High Level Task Force/HLTF) pendirian AIF, menanamkan modal sebesar 150 juta dolar AS, yang merupakan shareholder terbesar, diikuti Indonesia sebesar 120 juta dolar AS.
ASEAN sendiri diperkirakan membutuhkan dana hingga sekitar 60 miliar dolar AS per tahun untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur.
Menurut rencana, AIF akan membantu pendanaan sekitar enam proyek infrastruktur setiap tahun, yang diseleksi berdasarkan rate of return yang kuat, baik secara ekonomi maupun keuangan, dan memiliki dampak potensial dalam mengurangi kemiskinan.
Pembentukan AIF ini merupakan wujud konkrit dari hasil kerjasama keuangan negara-negara ASEAN dan merupakan salah satu keberhasilan diplomasi keuangan Indonesia, karena AIF terbentuk dalam periode kepemimpinan Indonesia di ASEAN.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk ASEAN Gede Ngurah Swajaya yang juga merupakan Perwakilan Tetap Indonesia untuk ASEAN menyebutkan bahwa terdapat 15 megaproyek dalam rangka konektivitas ASEAN dengan total nilai 60 miliar dolar AS.(MC ASEAN/dry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar