Kamis, 17 November 2011

Tenun Desa Sidemen Jajal Konektivitas ASEAN

Pengembangan kain ikat tenun di Desa Sidemen, Karang Asem, Bali merupakan upaya mengenalkan nilai-nilai seni dan budaya bangsa sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, sehingga dapat meningkatkan tarap hidup masyarakat. Hasil karya kain ikat tenun telah masuk kepada pasar ekspor mancanegara dengan desain yang menyesuaikan modernitas, sehingga dapat diterima negaranegara lain.

Delegasi KTT ke-19 ASEAN dari berbagai negara, bersama Menteri PP dan PA Linda Gumelar dan Menkes Endang Sedyaningsih dan Kepala Bappenas  Armida Salsiah Alisjahbana mengunjungi Usaha Kecil Menengah (UKM) penghasil kain ikat  tenun di Desa Sidemen Bali atas binaan BUMN Garuda. “Saat ini, yang perlu dilakukan adalah pendampingan, bagaimana UKM tersebut dapat meningkatkan kualitasnya, marketingnya, teknik-tekniknya, agar ke depan produk yang dihasilkan lebih baik lagi,” kata Linda Gumilar di Desa Sidemen Bali, Rabu (16/11).
Menurutnya, karya-karya yang dihasilkan oleh UKM di desa Sidemen ini merupakan bentuk mengangkat nilai-nilai budaya bangsa. Produk yang dihasilkan nya bukan hanya pada event nasional tapi sudah mencapai event internasional. Untuk meningkatkan kualitas UKM-UKM di Bali, maka dibutuhkan sinergi antara BUMN dan Pemerintah, Kalau ada UKM yang berpotensi maka harus dibina dengan baik, kemudian UKM yang dinilai bagus kualitasnya harus diberikan pendampingan.
“Jadi nanti Pemerintah dan BUMN tidak hanya memberikan modal begitu saja tapi juga harus dapat membina, mendampingi, dan mewadahi hasil-hasil karya meraka pada pameran-pemaran tingkat event nasional maupun  internasional,” katanya.
Desa Sideman ada lima perusahaan tenun ikat dengan mempekerjakan tenaga pengrajin seluruhnya tidak kurang dari 240 orang. Hasil kerajinan tenun daerah tersebut pada umumnya dikerjakan oleh para pengrajin, baik laki maupun perempuan, dengan alat-alat yang masih sangat sederhana, yaitu alat tenun bukan mesin (ATBM).
Pekerja Tenun di Desa Sidemen, Wayan Budiyani mengaku dirinya senang bekerja di sini, penghasilannya meningkat dari tahun-ketahun. “Awalnya Rp15.000 per kain terus meningkat Rp25.000 dan sekarang menjadi Rp30.000 perkain. Satu kain bisa diselesaikan selama satu hari,” katanya.
Wayan berharap dirinya dapat membuka usaha sendiri untuk mengembangkan kain ikat tenun khas Bali. Dengan begitu ia dapat lebih meningkatkan penghasilannya.
Sedangkan pekerja tenun laki-laki, Iwayan Agus Sudiara mengaku dirinya bekerja sambil belajar. “Kalau pagi saya sekolah dan sepulang sekolah saya bekerja tenun, sekligus membantu biaya sekolah,” katanya.(MC ASEAN/wandi/dry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar